Kamis, 11 April 2013

MAKALAH: ORDO ISOPTERA (RAYAP TANAH) (ENTOMOLOGI)


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rayap adalah tergolong dalam binatang Arthropoda, kelas Insekta dari Ordo Isoptera yang terdiri atas enam family, yaitu Mastotermitidae, Kalotermitidae, Hodotermitidae, Rhinotermitidae, Serritermitidae, dan Termitidae (Krishna 1969). Rayap merupakan serangga kecil berwarna putih pemakan selulosa yang sangat berbahaya bagi bangunan yang dibangun dengan bahan-bahan yang mengandung selulosa seperti kayu dan produk turunan kayu (papan partikel, papan serat, plywood, blockboard dan laminated board) (Hasan, 1984).
Rayap merupakan serangga social yang hidup dalam suatu koloni dengan pembagian tugas yang efisien. Satu koloni rayap terdiri atas kasta reproduksi (jantan dan ratu) dan non reproduksi (kasta prajurit dan kasta pekerja). Rayap kasta reproduksi berperan dalam pembentukan dan penyebaran koloni. Rayap kasta prajurit bertugas menjaga sarang dan anggota koloni dari hewan-hewan penggangu. Rayap kasta pekerja bertugas dalam merawat telur dan nimfa, membuat dan memelihara sarang serta mencari dan member makan untuk seluruh anggota koloni (Krishna, 1969)
Rayap juga merupakan serangga yang sudah akrab dengan kehidupan manusia. Namun, rayap selalu diidentikan sebagai hama perusak bangunan, perumahan, arsip, buku, tanaman, dan sebagainya. Padahal, pada awalnya rayap merupakan serangga yang berperan sebagai pembersih sampah alam. Saat ini, rayap perusak termasuk serangga yang sangat meresahkan masyarakat karena tingkat serangannya sangat cepat, ganas, dan menimbulkan kerusakan yang cukup parah Hal ini akibat habitat rayap yang terganggu oleh pembangunan yang dilakukan oleh manusia (Nandika, 2003).
Menurut Borror dan De Long (1998), Rayap hidup dalam kelompok sosial dengan sistem kasta yang berkembang sempurna. Dalam koloni terdapat serangga bersayap dan serangga tidak bersayap, ada juga yang hanya mempunyai tonjolan sayap saja. Sayapnya berjumlah dua pasang yang menempel pada bagian toraks dan berbentuk seperti selaput, dengan pertulangan sederhana dan reticulate. Bentuk dan ukuran sayap depan sama dengan sayap belakang, dan oleh karena itilah ordonya dinamakan Isoptera (Iso = sama, petra = sayap).
Rayap adalah serangga-serangga sosial pemakan selulosa yang berukuran sedang, merupakan ordo isoptera, secara efektif kelompok kecil dari serangga yang terdiri kira-kira 1900 jenis di dunia. Bagi masyarakat pengendali hama, pengenalan, biologi dan perilaku (etologi) rayap merupakan pengetahuan essensial, sedangkan bagi masyarakat umum hal ini di samping bermanfaat sebagai penambah pengetahuan untuk menghindari kerugian ekonomis yang ditimbulkan oleh kerusakan terhadap bangunan habitat pemukimannya, karena dengan demikian dapat dilakukan tindakan atau perlakuan khusus untuk mengendalikan hama perusak kayu.
Rayap merupakan salah satu serangga yang berperan penting dalam kerusakan kayu di dunia. Serangga ini merusak kayu dengan cara membuat liang kembara pada kayu dan menjadikannya sebagai tempat tinggal sekaligus sumber nutrisi koloni rayap. Hal ini menyebabkan kayu menjadi keropos dan hancur (Tarumingkeng, 2004).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Bagaimana ciri-ciri dari ordo isopteran ?
2)      Bagaimana struktur morfologi dan anatomi ordo isopteran ?
3)      Bagaimana siklus hidup rayap ?
4)      Bagaimana  cara pengendalian rayap dalam suatu komunitas tertentu ?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1)      Mengetahui ciri-ciri dari ordo isopteran
2)      Mengetahui struktur morfologi dan anatomi ordo isoptera
3)      Mengetahui siklus hidup rayap.
4)      Mengetahui cara pengendalian rayap.




BAB  II
PEMBAHASAN
2.1 Klasifikasi
Menurut Nandika et, al. (2003), C. curvignathus  merupakan rayap tanah yang paling luas seranganya di Indonesia. Klasifikasi rayap tanah C. curvignathus  sebagai berikut :
     Kingdom : Animalia
        Phylum : Artropoda
           Kelas : Insecta
               Sub-kelas : Pterigota
                   Ordo : Isoptera
                        Family :Rhinotermitidae
                            Sub-Family : Coptotermitinae
                                 Genus : Coptotermes
                                     Spesies : Coptotermes curvignathus
2.2 Ciri-ciri Ordo Isoptera
Isoptera berasal dari bahasa Latin adalah iso = sama, pteron = sayap yang berarti Insekta bersayap sama. Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo Isoptera adalah sebagai berikut : (Ismantono, 2005).
1)      Tubuh lunak.
2)      Memiliki dua sayap yaitu sayap depan berupa Sayap yang agak menebal seperti kulit
3)      Bersifat hemitabola.
4)      Memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama. Toraks berhubungan langsung dengan abdomen yang ukuran lebih besar, merupakanserangga social.
5)      Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
6)      Tipe mulut pengunyah.
7)      Cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yangdisebut polimorfisme. Pembagian tugas itu adalah raja, ratu dan prajurit atautentara.
8)      Contoh spesies : Helanithermis sp. (rayap). Rayap mengalami 4 kasta meliputi:
a)        Kasta reproduksi pertama, bersayap dan akan ditanggalkan setelah perkawinan.
b)        Kasta reproduksi kedua, dewasa secara seksual tapi dalam bentuk nympha.
c)        Kasta pekerja, tidak bersayap, buta, dan memilki banyak tugas yang berguna untuk memelihara koloni.
d)       Kasta tentara, bersifat steril tidak bersayap, memiliki kepala danmandibula yang besar, serta bertugas menjaga koloni.

2.3 Morfologi & Anatomi
Rayap yang ditemukan di daerah tropis jumlah telurnya dapat mencapai ± 36000 sehari bila koloninya sudah berumur ± 5 tahun. Bentuk telur rayap ada yang berupa butiran yang lepas dan ada pula yang berupa kelompok terdiri dari 16-24 butir telur yang melekat satu sama lain. Telur-telur ini berbentuk silinder dengan ukuran panjang yang bervariasi antara 1-1,5 mm (Hasan, 1986).
Nimfa muda akan mengalami pergantian kulit sebanyak 8 kali, sampai kemudian berkembang menjadi kasta pekerja, prajurit dan calon laron (Nandika dkk, 2003).  
Kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan pronotum kuning pucat. Bentuk kepala bulat ukuran panjang sedikit lebih besar daripada lebarnya. Antena terdiri dari 15 segmen. Mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung diujungnya, batas antara sebelah dalam dari mandibel kanan sama sekali rata. Panjang kepala dengan mandibel 2,46-2,66 mm, panjang mandibel tanpa kepala 1,40-1,44 mm dengan lebar pronotum 1,00-1,03 mm dan panjangnya 0,56 mm, panjang badan 5,5-6 mm. Bagian abdomen ditutupi dengan rambut yang menyerupai duri. Abdomen berwarna putih kekuning-kuningan (Nandika dkk, 2003).
Tubuh Isoptera tersusun oleh :
1. Caput
Prognathous. Mempunyai mata majemuk, kadang-kadang mengecil, mempunyai dua ocellus atau tidak mempunyai. Antena panjang tersusun atas sejumlah segmen, sampai tigapuluh segmen. Tipe mulut penggigit dan pengunyah (Rizali, 1995)
2. Thorax
Mempunyai dua pasangan sayap yang bersifat membran, kedua pasang sayap ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, pada keadaan istirahat pasangan sayap melipat di bagian dorsal abdomen. Kebanyakan pekerja dan tentara tidak bersayap. Pasangan-pasangan kaki pendek, coxae sangat berkembang, tarsusu terdiri atas empat sampai lima segmen, dengan sepasang ungues (Rizali, 1995)
3.  Abdomen
Tersusun atas sebelas segmen. Sternum segmen abdomen pertama mengecil. Sternum segmen abdomen kesebelas menjadi paraproct. Cercus pendek tersusun atas enam sampai delapan segmen (Rizali, 1995)

2.4 Siklus Hidup Isoptera (Rayap)
Telur yang menetas yang menjadi nimfa akan mengalami 5-8 instar. Jumlah telur rayap bervariasi, tergantung kepada jenis dan umur. Saat pertama bertelur betina mengeluarkan 4-15 butir telur. Telur rayap berbentuk silindris, dengan bagian ujung yang membulat yang berwarna putih. Panjang telur bervariasi antara 1-1,5 mm. TelurC.curvignathus akan menetas setelah berumur 8-11 hari. Dalam perkembangan hidupnya berada dalam lingkugan yang sebagian besar diaturdalam koloni dan terisolir dari pengaruh nimfa sesuai dengan kebutuhan koloni. Nimfa-nimfa yang sedang tumbuh dapat diatur menjadi anggota kasta, yang diperlakukan bahwa nasib rayap dewasa an siap terbang dapat diatur (Borror, 1996).
Nimfa muda akan mengalami pergantian kulit sebanyak 8 kali, sampai kemudian berkembang menjadi kasta pekerja, prajurit dan calon laron (Nandika, 2003).
Kasta pekerja jumlahnya jauh lebih besar dari seluruh kasta yang terdapat dalam koloni rayap. Nimfa yang menetas dari telur pertama dari seluruh koloni yang baru akan berkembang menjadi kasta pekerja. Waktu keseluruhan yang dibutuhkan dari keadaan telur sampai dapat bekerja secara efektif sebagai kasta pekerja pada umumnya adalah 6-7 bulan. Umur kasta pekerja dapat mencapai 19-24 bulan. Kasta pekerja berikutnya berbentuk dari nimfa-nimfa yang cukup besar dan mempunyai warna yang lebih gelap dibandingkan denan anggota perbentukan pertama. Kepala dilapisin dengan polisacharida yang disebut chitin dan menebal pada bagian rahangnya. Pada segmen terakhir dari pangkal sterink terdapat alat kelamin yang tidak berkembang dengan sempurna sehingga membuat kasta pekerja ini menjadi mandul (Hasan, 1986).
2.5 Struktur Hidup
Rayap merupakan serangga social yang hidup dalam suatu koloni dengan pembagian tugas yang efisien. Satu koloni rayap terdiri atas kasta reproduksi (jantan dan ratu) dan non reproduksi (kasta prajurit dan kasta pekerja). Rayap kasta reproduksi berperan dalam pembentukan dan penyebaran koloni. Rayap kasta prajurit bertugas menjaga sarang dan anggota koloni dari hewan-hewan penggangu. Rayap kasta pekerja bertugas dalam merawat telur dan nimfa, membuat dan memelihara sarang serta mencari dan member makan untuk seluruh anggota koloni (Krishna, 1969).
Seperti  dalam  kehidupan masyarakat, rayap memiliki kelompok-kelompok yang disebut kasta. Masing-masing kasta mempunyai tugas dan peran masing-masing yang dilakukan dengan tekun selama mereka hidup demi untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Kasta rayap dibagi menjadi 3 yaitu:
      1. Kasta Reproduksi
Kasta Reproduktif   terdiri  atas individu-individu seksual yaitu rayap betina (yang abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya hanya bertelur dan jantan (raja) yang tugasnya membuahi betina. Raja sebenarnya tak sepenting ratu jika dibandingkan dengan lamanya ia bertugas karena dengan sekali kawin, betina dapat menghasikan ribuan telur; dan  sperma dapat disimpan oleh betina dalam kantong khusus untuk itu, sehingga mungkin sekali  tak diperlukan kopulasi berulang-ulang. Jika koloni rayap masih relatif muda biasanya kasta reproduktif berukuran besar sehingga disebut ratu (Ismantono, 2005).
Biasanya ratu dan raja adalah individu pertama pendiri koloni, yaitu  Laron/Alates  sepasang laron yang mulai menjalin  kehidupan bersama sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti bertumbuh. Koloni akan membentuk “ratu” atau “raja” baru dari individu lain (biasanya dari kasta pekerja) tetapi ukuran abdomen ratu baru tak akan sangat membesar seperti ratu asli. Ratu dan raja baru ini disebut reproduktif suplementer atau neoten. Jadi, dengan membunuh ratu atau raja kita tak perlu sesumbar bahwa koloni rayap akan punah. Bahkan dengan matinya ratu, diduga dapat terbentuk berpuluh-puluh neoten yang menggantikan tugasnya untuk bertelur. Dengan adanya banyak neoten maka jika terjadi bencana yang mengakibatkan sarang rayap terpecah-pecah, maka setiap pecahan sarang dapat membentuk koloni baru (Ismantono, 2005).
2. Kasta Prajurit / Soldier
Kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena penebalan (sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam rangka tugasnya mempertahankan kelangsungan hidup koloninya. Mereka berjalan hilir mudik  di antara para pekerja yang sibuk mencari dan mengangkut makanan. Setiap ada gangguan dapat diteruskan melalui “suara” tertentu sehingga prajurit-prajurit bergegas menuju ke sumber gangguan dan berusaha mengatasinya. Jika terowongan kembara diganggu sehingga terbuka tidak jarang kita saksikan pekerja-pekerja diserang oleh semut sedangkan para prajurit sibuk bertempur melawan semut-semut, walaupun mereka umumnya kalah karena semut lebih lincah bergerak dan menyerang. Tapi karena prajurit rayap biasanya dilengkapi dengan mandibel (rahang) yang berbentuk gunting maka sekali mandibel menjepit musuhnya, biasanya gigitan tidak akan terlepas walaupun prajurit rayap akhirnya mati. Mandibel bertipe gunting (yang bentuknya juga bermacam-macam) umum terdapat di antara  rayap famili Termitidae, kecuali pada Nasutitermes ukuran mandibelnya tidak mencolok tetapi memiliki nasut (yang berarti hidung, dan penampilannya seperti “tusuk”) sebagai alat penyemprot racun bagi musuhnya (Prayogo, 2007).
3. Kasta Pekerja / Worker.
Kasta  ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari 80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu  pekerja. Tugasnya melulu hanya bekerja tanpa berhenti hilir mudik di dalam liang-liang kembara dalam rangka mencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan prajurit, membersihkan telur-telur, dan  membunuh serta memakan rayap-rayap yang tidak produktif lagi (karena sakit, sudah tua atau juga mungkin karena malas), baik reproduktif, prajurit maupun kasta pekerja sendiri
2.6  Habitat
Dasar pembangunan sarang ini adalah adanya rangsangan yang mungkin berupa pergerakan udara, bau, cahaya, temperatur dan sebagainya yangberbeda/mengganggu keadaan normal dari lingkungan koloni. PadaZootermopsis dan Reticulitermes, rangsangan direspon dengan menumpukkotoran dan memberikan alarm rayap lain, ini diikuti dengan pembangunansarang. Kemudian akan timbul rangsangan kedua dan seterusnya. Adanya rangsangan-rangsangan ini disebut stigmergie hypothesis yaitu mekanismeperilaku membangun (Susanta, 2007)
Pembuatan sarang rayap tanah dimulai dari bawah membentuk queenchamber yang berbentuk dome, kemudian sarang dikembangkan ke atassecara berlapis-lapis mengikuti bentuk queen chamber (Prayogo, 2007).
Sistem Struktur Pada Sarang Rayap Tanah pada dasarnya sarang tersusun dari bulatan-bulatan yang memilikidimensi dan bentuk yang tidak beraturan (maksudnya bulatan itu tidaksempurna bulatnya) lebih menyerupai crispy pada coklat (Putra, 1994).
2.7  Peranan Dan Pengendalian Ordo Isopter (Rayap)
Diseluruh dunia jenis rayap yang telah dikenal ada sekitar 2000 spesies (sekitar 120 spesies merupakan ham) sedangkan lebih kurang dari 20 spesies yang diketahui berperan sebagai hama perusak kayu dan sebagai vektor penyakit pada manusia. Namun, tidak semua serangga bersifat sebagai hama dan perusak bengunan. Kebanyakan serangga seperti jenis rayap juga sangat diperlukan dan berguna bagi manusia. Rayap biasa berperan dalam menjaga daur hidup rantai dan jaring-jaring makanan di suatu ekosistem. Sebagai contoh apabila benthos (larva serangga yang hidup di perairan) jumlahnya sedikit, secara langsung akan mempengaruhi kehidupan ikan dan komunitas hidup organisme lainnya di suatu ekosistem sungai atau danau. Di bidang pertanian, apabila serangga penyerbuk tidak ditemukan maka keberhasilan proses penyerbukan akan terhambat (Tobing, 2007).
Pengendalian rayap hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan insektisida kimia (termisida), yang dapat diaplikasikan dalam beberapa cara yaitu melalui penyemprotan, atau pencampuran termisida dalam bentuk serbuk atau granula dengan tanah. Teknik penyuntikan pada bagian pohon atau sistem perakaran tanaman yang terserang atau dengan cara penyiraman disekitar tanaman (Wulandari, 2009).
Racun kuat yang kebanyakan dari kelompok fosfat-organik atau organofosfat dan karbamat kurang dapat mengendalikan populasi rayap karena sifatnya yang tidak tahan lama (non persistent) di lingkungan, walaupun kekuatannya luar biasa. Salah satu contoh fosfat organic yang sering digunakan untuk soil treatment terhadap rayap penyerang bangunan adalah chlorpytifos (Wulandari 2009).
Nematoda Steinernema carpocapsae memiliki efektifitas cukup mengendalikan rayap. Umumnya nematoda Steinernema carpocapsae banyak ditemukan didalam tanah, sehingga diharapkan rayap C. curvignathus yang selalu berhubungan dengan tanah akan dapat dimanfaatkan sebagai agen hayati. Pemberian nematoda dengan jumlah terkecil menimbulkan 38,16% dan dengan jumlah tertinggi menimbulkan mortalitas 60,80%. Pengendalian hama terpadu (PHT) termasuk pengendalian rayap pada kelapa sawit berpedoman pada Undang- undang No.12 tahun 1992 tentang system Budidaya Tanaman, dan dalam sistem tersebut pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami hama seperti parasitoid, predator dan pathogen menjadi komponen utama, sedangkan secara kimiawi merupakan alternative terakhir (Wulandari 2009).
Pengumpanan adalah salah satu teknik pengendalian yang ramah lingkungan. Dilakukan dengan menginduksi racun slow action kedalam kayu umpan, dengan air trofalaksinya kayu tersebut dimakan rayap pekerja dan di sebarkan kedalam koloninya. Teknik pengumpanan selain untuk mengendalikan juga dapat digunakan untuk mempelajari keragaman rayap tanah (Wulandari 2009).



BAB  III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapanun yang dapat diambil kesimpulan dari makalah Ordo Isoptera (Rayap) yaitu sebagai berikut :
     1)      Ciri-ciri yang dimiliki oleh Ordo Isoptera yaitu berupa Tubuh lunak, Memiliki dua Sayap yaitu sayap depan berupa Sayap yang agak menebal seperti kulit, Bersifat hemitabola, Memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama. Toraks berhubungan langsung dengan abdomen yang ukuran lebih besar, merupakanserangga social. Isoptera mengalami metamorfosis tidak sempurna, dengan Tipe mulut pengunyah, dan Cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang disebut polimorfisme. Sedangkan Pembagian tugas pada struktur hidupnya berupa raja, ratu dan prajurit serta tentara. Contoh spesies : Helanithermis sp. (rayap). Rayap mengalami 4 kasta.
      2)      Anatomi dari Tubuh Isoptera tersusun oleh Caput, Thorak dan abdormen
     3)      Siklus hidup dari Isoptera mengalami metamorfosis tidak sempurna berupa telur, nimfa, dari nimfa akan menjadi (prajurit, pekerja dan nimfa fertile), kemudian dari fertile akan menjadi Laron dan terlepas sayapnya, mengalamai seleksi menjadi Kasta Reproduksi (Raja dan Ratu).
     4)      Pengendalian rayap hingga saat ini masih mengandalkan penggunaan insektisida kimia (termisida), yang dapat diaplikasikan dalam beberapa cara yaitu melalui penyemprotan, atau pencampuran termisida dalam bentuk serbuk atau granula dengan tanah. Teknik penyuntikan pada bagian pohon atau sistem perakaran tanaman yang terserang atau dengan cara penyiraman disekitar tanaman


Daftar Pustaka

Anonim. 2012. Rayapt. http://www.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 05 Mei 2012.
Banot, R. 2007. Ant Biology and Life Cycle. http://www.knoledge_gallery/article-112/ant-biology-and-life-cycle.htm. Diakses tanggal 05 Mei 2012.
Borror, D. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Yogyakarta, UGM Press.
Hasan, T. 1986. Rayap dan Pemberantasannya. Yayasan Pembinaan Watak dan Bangsa, Jakarta.
Ismantono, R. (2005). Fisiologi Dan Kebiasaan Rayap (Online). http://burungkicauan.net/news-siklus-hidup. Diakses tanggal 05 Mei 2015.
Nandika, et al. 2003. Rayap : Biologi dan Pengendaliannya. Harun JP Ed. Muhammadiyah University Press, Surakarta.
Prayogo, I. 2007. Beberapa Pengalaman Menghadapi Serangan Rayap dan paya Pencegahannya (Online). http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/ 21340/4/ Chapter%20II.pdf. Diakses tanggal 05 Mei 2012.
Putra, N. 1994. Serangga disekitar Kita. Kanisius, Yogyakarta.

Susanta, 2007. Cara Praktis Mencegah dan Membasmi Rayap. Jakarta : Penebar Swadaya.

Tarumingkeng, CR. 2001. Biologi dan Perilaku Rayap (Online). http://www.rudyct.com/biologi_dan_perilaku_rayap.htm. PSIH IPB, Bogor. Diakses tanggal 20 Mei 2011.
Tobing, D. 2007. Penggunaan berbagai Konsentrasi hitosan dan Fipronil terhadap Pengendalian Hama Rayap (Online). http://repository.usu.ac.id/ bitstream/1234 56789/7702/1/09E01568.pdf. Diakses tanggal 05 Mei 2012.
Wulandari, G. 2009. Bentar Uji Toksisitas Kitosan untuk Mengendalikan rayap (Online).http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/7702/1/09E01568.pdf. Diakses tanggal 05 Mei 2012.

MAKALAH: ORDO LEPIDOPTERA (KUPU-KUPU DAN NGENGAT) (ENTOMOLOGI)



BAB I
PENDAHULUAN

Kupu-kupu merupakan serangga yang umum dikenal, karena memiliki ciri-ciri yang khas, terutama adanya sisik-sisik pada sayap yang mudah terlepas jika dipegang, tidak menggigit dan menyengat dan dalam bentuk dewasa bukanlah serangga perusak yang serius. Memiliki jumlah populasi yang paling banyak dari pada ordo lainnya dalam kelas insekta dan tersebar dari dataran rendah sampai ketinggian 750 m dpl serta ditemukan pada daerah hutan, pinggiran hutan, ladang, semak belukar, dan di sepanjang aliran air (Corbet and Pendlebury, 1956; Borror, Triplehorn dan Jhonson ,1992; Herwina, 1996). yang cukup banyak dan diperkirakan berjumlah 2500 jenis (Corbet dan Pendlebury, 1956). Penyebaran setiap jenis kupu-kupu tersebut mengikuti pola distribusi yang jelas. Jenis kupu-kupu yang ditemukan pada wilayah bagian barat Indonesia, penyebarannya berasal dari daratan Asia, sedangkan kupu-kupu yang terdapat di Indonesia bagian Timur, penyebarannya dari benua Australia .
Dalam suatu ekosistem kupu-kupu berperan penting dalam memelihara keanekaragaman hayati, karena fungsinya sebagai polinator yang mendorong terjadinya penyerbukan pada tumbuhan sehingga membantu perbanyakan tumbuhan secara alamiah. Kupu-kupu juga mempunyai nilai ekonomis, terutama dalam bentuk dewasa dijadikan koleksi, dan sebagai bahan pola dan seni. Kupu-kupu juga menjadi perhatian para ilmuwan untuk melengkapi catatan biosistematik tentang kupu-kupu sehingga sangat penting untuk studi ilmiah.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kehidupan kupu-kupu, yakni mulai dari fase telur sampai fase imago, yaitu :
a. Distribusi dan kelimpahan sumber makanan ulat.
Distribusi sumber daya dan kelimpahan makanan ulat adalah merupakan salah satu factor penting yang mempengaruhi kelangsungan hidup ulat kupu-kupu. Semakin tinggi kelimpahan, akan menyebabkan pula ketersedian pakan ulat semakin banyak Sedangkan distribusi pakan akan berpengaruh kepada ketersediaan ruang dalam mencari pakan dan sekaligus berpengaruh terhadap sebaran jenis kupu-kupu.
b. Ketersediaan cairan nektar yang diisap oleh imago.
Semakin banyak cairan nektar yang tersedia, yang dicirikan oleh kelimpahan tumbuhan berbunga penghasil nektar, akan semakin banyak pula imago yang datang mengunjungi tempat tersebut. Selain cairan nektar dari bunga-bungaan, kupu-kupu juga mengisap cairan dari bangkai atau cairan pembuangan air senih dari hewan dan manusia.
c. Iklim.
Kelembaban adalah salah satu faktor iklim yang sangat penting bagi kupu-kupu. Pada umumnya kupu-kupu menyukai habitat yang mempunyai kelembaban tinggi, seperti lokasi-lakasi yang berada dipinngir sungai yang jernih atau dibawah tegakan pohon sekitar gua yang lembab karena berair.
d. Organisme lain.
Termasuk predator yang mengancam kupu-kupu, ataupun tumbuhan perdu maupun pohon yang digunakan oleh kupu-kupu sebagai tempat perlindungan, baik pada waktu hujan ataupun pendinmginan tubuh dari sengatan matahari panas, maupun dari serangan predator itu sendiri.
e. Kerusakan alami.
Banyak kerusakan alami yang menghancurkan habitat kupu-kupu, sehingga kupu-kupu tersebut bermigrasi untuk mencari habitat yang lebih bagus. Kerusakan alami yang dimaksud seperti longsoran, kemarau panjang, banjir dan sebagainya.
f. Kerusakan oleh manusia.
Kerusakan habitat oleh manusia adalah merupakan faktor penting dan mungkin penyebab yang paling besar pengaruhnya terhadap menurunnya populasi atau bahkan menyebabkan punahnya satu jenis kupu-kupu. Kerusakan habitat oleh manusia dapat berupa penebangan pohon sehingga menggangu kelembaban, pengambilan daun dan buah serta ranting kayu yang tidak terseleksi menyebabkan persaingan pakan terhadap larva kupukupu, atau mungin menginjak tumbuhan bawah dimana telur dan larva kupu-kupu berada.
g. Kebersihan lingkungan pada habitat kupu-kupu.
Kebersihan lingkungan habitat kupu-kupu adalah merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kehadiran kupu-kupu tersebut di suatu tempat. Membuang sampah sembarangan, akan mengundang serangga lain datang kesitu, dan secara tidak langsung akan mengundang pula predator kupu-kupu untuk datang ketempat tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

A. ORDO LEPIDOPTERA
Kupu-kupu dan ngengat (rama-rama) merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, atau 'serangga bersayap sisik' (lepis, sisik dan pteron, sayap).
Ciri-ciri ordo Lepidoptera adalah :
·         Memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus.
·         Mengalami metamorfosis sempurna.
·         Tipe mulut pada tahap larva menggigit, sedangkan pada tahap dewasa menghisap.
·         Mata fasetnya besar.
 Contoh : Kupu-kupu Swallowtail, kupu-kupu sutera (Bombyx mori), kupu-kupu elang (Acherontia atropos).
Family Zygaenidae
Zygaenidae termasuk keluarga Lepidoptera. Mayoritas zygaenidae hidup di daerah tropis, maupun di daerah sedang. Ada sekitar 1000 spesies. Berbagai jenis yang umumnya dikenal sebagai kupu-kupu yang hidup di hutan atau Burnet moths, sering bercirikan dengan bintik bintik, yang sering disebut smoky moths.
Terdapat 43 jenis zygaenidae Australia yang umumnya dikenal sebagai foresters termasuk suku Artonini dari subfamily Procridinae. Satu-satunya spesies non-endemik di Australia Palmartona catoxantha, Asia Tenggara jenis hama yang diyakini sudah ada di Australia atau kemungkinan akan segera bermunculan.
Moths Zygaenidae biasanya terbang dengan lambat. Mereka umumnya memiliki logam kemilau dan bintik-bintik merah atau kuning. Warna-warna yang cerah merupakan salah satu tanda peringatan ke predator. Warna ini muncul karena kandungan hidrogen sianida di semua tahapan dari siklus hidup mereka.
Family Psychidae
Ciri-ciri :
The Psychidae atau Bagworms adalah keluarga dari Lepidoptera (butterflies dan moths). Larva dari Psychidae menghasilkan bahan sutera pada lingkungan seperti pasir, tanah, lichen, atau bahan-bahan tanaman. Habitatnya di batu, pohon-pohon atau pagar sambil istirahat atau selama tahap kepompong mereka. Beberapa larva spesies ini memakan lichen, sementara yang lain lebih suka daun berwarna hijau. Dalam banyak spesies, betina dewasa umumnya tidak memiliki sayap yang jelas dan karena itu sulit diidentifikasi. Bagworm dari berukuran kurang dari 1 cm hingga 15 cm di antara beberapa spesies hidup di daerah tropis. Betina dewasa dari spesies bagworm hanya memiliki sayap vestigial, kaki, dan bagian mulut yang kecil. Spesies Fliers merupakan jantan dewasa yang paling kuat dan dapat mengembangkan sayap berbulu. Antena bertahan cukup lama karena dikembangkan di bawah bagian mulut yang mencegah mereka dari makanan. Setiap generasi bagworm hidup cukup lama untuk pasangan mereka dan mereproduksi generasi untuk tahun berikutnya dalam siklus tahunan.
Spesies Bagworms ditemukan secara global, dengan beberapa spesies, seperti bagworm snailcase, bermigrasi ke benua baru di mana mereka bukan merupakan famili asli dengan jumlah sekitar 600 spesies. Beberapa bagworms merupakan host dengan makan berbagai daun. Beberapa spesies juga mengkonsumsi arthropoda kecil seperti Pseudaonidia duplex.
 Bagworm dapat memproduksi sutra dan bahan-bahan dari habitat mereka. Mereka melakukan klamufase dari predator. Musuh alaminya yaitu burung dan serangga lainnya. Burung yang sering makan telur, tubuhnya penuh dengan bagworms betina yang mati. Bagworms dianggap hama bagi manusia karena kerusakan yang dilakukan untuk beberapa tanaman seperti pial di Afrika Selatan dan jeruk di Florida.
Family Geometridae
Geometridae merupakan salah satu family Lepidoptera. Family ini merupakan family yang banyak tersebar. Family ini memiliki sekitar 26.000 jenis (lebih dari 300 berada di Kepulauan Inggris, dan lebih dari 1.200 spesies asli berada di Amerika Utara). Banyak Geometridae muncul bukan seperti kupu-kupu, tetapi dalam banyak hal mereka ngengat yang khas: mayoritas terbang di malam hari, mereka memiliki frenulum untuk menghubungkan sayap dan antena dan jantan seringkali berbulu. Dalam beberapa spesies, betinanya memiliki sayap (misalnya ngengat musim dingin). Kebanyakan spesiesnya berukuran sedang, sekitar 3 cm lebar sayap, tetapi berbagai ukuran terjadi dari 3 / 8 inchi ke 2 inchi (9.5-51 mm).
 Nama "Geometridae" berasal dari ahli ilmu ukur ( "bumi-alat pengukur"). Merujuk kepada larva atau caterpillars, yang tidak memiliki prolegs atau lainnya. Tubuhnya dilengkapi dengan appendages di kedua ujung tubuhnya, yang akan dihubungkan dengan kaki depan dan membuat bagian belakang, maka dengan penghubung bagian belakang (prolegs). Caterpillars cenderung berwarna hijau, abu-abu, atau coklat.
B. KUPU-KUPU DAN NGENGAT
Secara sederhana, kupu-kupu dibedakan dari ngengat alias kupu-kupu malam berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan ngengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal). Kupu-kupu beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya. Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada perkecualiannya, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti.
Kupu-kupu dan ngengat amat banyak jenisnya. Di Jawa dan Bali saja tercatat lebih dari 600 spesies kupu-kupu. Jenis ngengatnya sejauh ini belum pernah dibuatkan daftar lengkapnya, akan tetapi diduga ada ratusan jenis
Ngengat adalah serangga yang berhubungan dekat dengan kupu-kupu dan kedua duanya termasuk ke dalam Ordo Lepidoptera. Perbedaan diantara kupu-kupu dan ngengat lebih dari taksonomi. Kadang nama "Rhopalocera" (kupu-kupu) dan"Heterocera" (ngengat) digunakan untuk memformalisasikan perbedaan mereka. Banyak usaha telah dilakukan untuk membagi ordo Lepidoptera menjadi kelompok seperti Microlepidoptera dan Macrolepidoptera, Fenatae dan Jugatau, atau Monotrysia dan Ditrysia. Kegagala dari nama ini untuk tetap berada pada penggolongan moderan karena tidak ada dari penggolongn tersebut merepresentasikan sepasang kelompok monofiletis. Pada kenyatannya, kupu-kupu adalah kelompok kecil yang muncul dari "ngengat". Kebanyakan spesies ngengat giat pada malam hari, namun ada juga yang giat pada petang dan pagi, serta yang giat pada siang hari.
Ngengat Kupu-kupu Nilai penting ngengat atau kupu-kupu malam dalam berbagai bidang kehidupan yaitu :
Ngengat dan ulatnya adalah salah satu hama perkebunan di banyak bagian di bumi. Ulat dari ngengat gipsi (Lymantria dispar), sebuah spesies invasif menyebabkan kerusakan yang parah terhadap hutan di amerika Serikat Timur Laut. Di daerah beriklim sedang ngengat codling menyebabkan kerusakan yang parah terutama pada perkebunan buah. Di daerah tropis dan subtropis ulat kubis (Plutella xylostella) mungkin adalah hama tanaman kubis-kubisan yang paling ganas. Beberapa ngengat pada keluarga Tineidae seringkali di anggap sebagai hama karena larvanya memakan bahan kain seperti baju dan selimut yang dibuat dari serat alami seperti woll dan sutra, mereka namun biasanya tidak memakan material yang dicampur dengan serat buatan. Kapur barus adalah penangkal ngengat yang paling sering digunakan dan dianggap cukup efektif namun ada kekuatiran akan pengaruhnya pada kesehatan manusia. Larva ngengat dapat dibunuh dengan membekukan barang yang mereka serang untuk beberapa hari pada suhu dibawah -8 derajat celsius.
Ngengat cukup tahan banting dan lebih tidak rentan pada pembasmi hama dibandingkan nyamuk dan lalat. Beberapa ngengat namun juga berguna dan diternakan seperti contohnya ulat sutera, larva dari ngengat domestik Bombyx mori. Ulat sutera diternakan untuk diambil kepompongnya. Tidak semua sutra diproduksi oleh Bombyx mori kaena ada beberapa spesies Saturniidae yang juga diternakan untuk sutranya seperti ngengat Ailanthus (anggota dari kelompokSamia cynthia ) , Ngengat Sutra Ek Cina (Antheraea pernyi), the Ngengat Sutra Assam (Antheraea assamensis), dan Ngengat Sutra Jepang (Antheraea yamamai). Ulat mopane, ulat dari Gonimbrasia belina, dari keluarga Saturniidae, merupakan salah satu sumber makanan di Afrika Selatan. Perlu dicatat bahwa ngengat dewasa namun tidak memakan bahan kain. Ngengat besar seperti Lun, Polyphemus, Atlas, Prometheus, Cercropia, tidak mempunyai mulut dan mereka meminum nektar untuk makanannya.
C. Klasifikasi Kupu-kupu A. violae
Kupu-kupu (Rhopalocera) termasuk ke dalam filum Arthropoda, divisio Endopterygota, kelas Insekta dan ordo Lepidoptera. Kupu-kupu dikelompokkan dalam dua superfamili yaitu Hesperioidea dan Papilionoidea. Superfamili Hesperioidea terdiri dari satu famili yaitu Hesperiidae. Superfamili Papilionoidea terdiri dari beberapa famili yaitu Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Lycaenidae, Riodinidae, Satyridae, Amathusiidae, Libytheidae, dan Danaidae (Corbet and Pendlebury, 1956). Salah satu spesies dari famili Nymphalidae adalah A. violae dengan klasifikasi menurut Kunte (2006) adalah:
   Filum : Arthropoda
        Subfilum : Mandibulata
 Kelas : Insekta
      Subkelas : Pterygota
           Ordo : Lepidoptera
                Superfamili : Papilionoidea
                     Famili : Nymphalidae
                         Subfamili : Heliconiinae
                             Genus : Acraea
                                 Spesies : Acraea violae Fabricius, 1793
D. METAMORFOSIS KUPU-KUPU
Metamorfosis adalah proses dari ulat menjadi hewan baru (fase sempurna) yaitu kupu-kupu. Pada prosesnya terjadi cukup panjang dan lama namum sederhana. Pertama-tama mulai ari telur yang di letakkan oleh kupu-kupu pada daun (biasanya daun pohon jeruk atau dapat juga pohon yang lain) yang bertujuan nantinya daun tersebut bisa menjadi bahan makanan ulat tersebut hingga mencapai dewasa setelah tiba waktunya menjadi pupa/ kepompong dan dalam beberapa hari akan menjadi kupu-kupu baru.
Kupu-kupu merupakan serangga terbang, yang mengalami metamorfosa sempurna karena kehidupannya dimulai dari telur, larva, pupa, dan dewasa. Di dalam daur hidup kupu-kupu hanya memerlukan makan pada fase larva (ulat) dan dewasa. Makanan larva berupa bagian-bagian dari tumbuhan termasuk buah, biji, dan daun; oleh karena itu mulut larva memiliki bentuk sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk menggigit dan mengunyah. Perubahan morfologi tersebut diiringi pula dalam perubahan fisiologi pencernaan makanannya.
1.      TELUR
Telur akan menetas antara 3 – 5 hari, larva akan berjalan ke pinggir daun tumbuhan inang dan memulai memakannya. Sebagian larva mengkonsumsi cangkang telur yang kosong sebagai makanan pertamanya Kulit luar dari larva tidak meregang mengikuti pertumbuhannya, tetapi ketika menjadi sangat ketat larva akan berganti kulit.
2.      LARVA (ULAT)
 Setelah menetas larva akan mencari makan Sebagian larva mengkonsumsi cangkang telur yang kosong sebagai makanan pertamanya. Kulit luar dari larva tidak meregang mengikuti pertumbuhannya, tetapi ketika menjadi sangat ketat larva akan berganti kulit.  Jumlah pergantian kulit selama hidup larva umumnya 4 – 6 kali, dan periode antara pergantian kulit (molting) disebut instar. Larva kupu-kupu bervariasi dalam bentuk, tetapi pada sebagian besar berbentuk silindris, dan terkadang memepunyai rambut, duri, tuberkel atau filamen. Ketika larva mencapai pertumbuhan maksimal, larva akan berhenti makan, berjalan mencari tempat berlindung terdekat, melekatkan diri pada ranting atau daun dengan anyaman benang. Larva telah memasuki fase prepupa dan melepaskan kulit terakhir kali untuk membentuk pupa.
3.      PUPA ( kepompong)
Fase pupa kalau dilihat dari luar seperti periode istirahat, padahal di dalam pupa terjadi proses pembentukan serangga yang sempurna. Pupa pada umumnya keras, halus dan berupa suatu struktur tanpa anggota tubuh. Pada umumnya pupa berwarna hijau, coklat atau warna sesuai dengan sekitarnya. (berkamuflase) . Pembentukan kupu-kupu di dalam pupa biasanya berlangsung selama 7 – 20 hari tergantung spesiesnya
4.      KUPU-KUPU
Tubuh kupu-kupu dewasa terbagi menjadi tiga bagian yaitu caput, toraks dan abdomen. Pada caput terdapat sepasang antena yang panjang dan membesar pada ujungnya yang berfungsi sebagai peraba dan perasa, dan lidah bergulung (probosis) yang berfungsi untuk menghisap makanan (Mastright dan Rosariyanto, 2005). Kupu-kupu memiliki sepasang mata majemuk (compound eye) yang berfungsi untuk mengendalikan gerakan (Braby, 2000).
Toraks kupu-kupu terbagi menjadi tiga segmen yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks. Protoraks merupakan segmen terkecil dan terletak pada segmen terdepan dari toraks. Segmen kedua adalah mesotoraks yang  merupakan segmen terbesar. Segmen yang ketiga adalah metatoraks. Pada masing-masing segmen terdapat sepasang tungkai. Pada mesotoraks dan metatoraks terdapat sepasang sayap (Gambar 4) (Braby, 2000).  Fase imago atau kupu-kupu adalah fase dewasa




PERILAKU KUPU-KUPU:
Kupu-kupu merupakan serangga yang melakukan aktivitas pada siang hari, pada malam hari kupu-kupu akan istirahat dan terlindungan daun pepohonan. siang kupu-kupu makin aktif terbang dan melakukan aktivitas mencari makan dan berproduksi. Kegiatan mencari makan dilakukan sendiri-sendiri tetapi sering tampak kupu-kupu jantan dan batina terbang berpasangan dan pada saatnya akan melakukan kopulasi.
Selanjutnya induk kupu-kupu akan meletakkan telurnya pada tumbuhan inangnya. kupu-kupu yang rentang sayapnya kecil akan terbamg rendah antara 10 cm- 2 m. Sedangkan kupu-kupu yang rentang sayap lebih besar terbang lebih tinggi sampai ± 10 m. Pada kegiatan mencari makan, kupu-kupu akan hinggap pada bunga-bunga dan menjulurkan probosisnya.
Nilai Penting Kupu-Kupu dalam berbagai bidang kehidupan yaitu : Kupu-kupu mempunyai nilai yang sangat penting, dan dapat dikelompokkan kedalam nilai ekonomi, ekologi, endemisme, konservasi, estetika, pendidikan dan nilai budaya.
a. Nilai Ekonomi.
Ada beberapa jenis kupu-kupu yang mempunyai nilai ekonomi penting karena mempunyai harga jual di pasaran cukup tinggi. Bukan hanya imagonya yang dapat dijual dalam bentuk cendera mata, tetapi justru kepompong mempunyai nilai ekspor yang cukup tinggi. Saat ini kepompong beberapa jenis kupu-kupu tertentu telah di ekpor ke pasaran internasional, terutama ke Inggris. Di negara tujuan, kepompong ini dimasukkan ke taman kupu-kupu untuk dipertontonkan kepada pengunjung, bagaimana spektakulernya imago yang sedang keluar dari kepompong.
Nilai ekonomi ini adalah nerupakan salah satu yang menyebabkan terjadinya ancaman terhadap kehidupan kupu-kupu di alam, karena masyarakat melakukan pemanenan tanpa melakukan pertimbangan terhadap pertumbuhan populasi dari jenis kupu-kupu yang laku dijual di pasaran.
b. Nilai Ekologi.
Nilai ekologi kupu-kupu juga sangat penting, terutama karena kupu-kupu, dalam hal ini imago banyak melakukan pollinasi terhadap tumbuhan tertentu.
c. Nilai Estetika.
Kupu-kupu mempunyai nilai estetika yang sangat tinggi karena warna dari sayapnya yang menawan dan sangat artistik. Warna-warna ini kadang-kadang merupakan kamuplase sebagai startegi untuk menghindari atau menakuti predator. Disamping itu ada kupu-kupu yang mempunyai bentuk sayap yang has, sehingga terlihat sangat berbeda dengan jensi kupu-kupu lainnya.
Wallacea, pada tahun 1857 perna tinggal di Bantimurung dan melukiskan kupu-kupu ekor sriti (Papilio androcles) sebagai berikut: Bila mahluk yang indah ini terbang, ekornya yang panjang berwarna putih berkilat-kilat seperti umbai-umbai, dan bila kupu-kupu in hinggap ditepi sungai, ekornya akan diangkat keatas seakan mencegahnya dari kemungkinan kerusakan (Whitten dkk, 1987)
d. Nilai Pendidikan
Kupu-kupu mempunyai nilai pendidikan yang tinggi, dimana para pelajar dan mahasiswa dapat melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kupu-kupu tersebut. Masih banyak masalah yang mempengaruhi kehidupan kupu-kupu belum diketahui, seperti jenis pakan ulat dari setiap jenis kupu-kupu, dll. Bahkan kupu-kupu di Bantimurung telah menghasilkan beberapa sarjana dari berbagai perguruan tinggi di Makassar, bahkan dari luar Sulawesi Selatan, seperti IPB dan Universitas Gaja Mada.
e. Nilai Endemisme
Beberapa jenis kupu-kupu mempunyai nilai endemisme, baik berupa endemisme regional, pulau maupun endemisme lokal. Jenis endemisme lokal sangat rentan terhadap kepunahan, sehingga memerlukan perhatian yang besar. Ada baiknya penelitian ekologi kupu-kupu dan penangkaran di perioritaskan terhadap jenis endemisme lokal ini, apalagi kalau jenis ini kebetulan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Mattimu (1977) menjelaskan bahwa beberapa jenis kupu-kupu endemik dapat ditemukan di Bantimurung, antara lain : Papilio blumei, P. polites, P. satapses, Troides halliptron, T. helena, T. hypolites dan Graphium androcles.
f. Nilai Konservasi
Beberapa jenis kupu-kupu mempunyai nilai konservasi yang tinggi karena statusnya yang terancam punah. Hal ini juga berlaku bagi jenis kupu-kupu endemik, terutama yang statusnya endemik lokal. Jenis-jenis yang masuk dalam kedua kategori tersebut, mempunyai nilai konservasi yang sangat tinggi, sehingga memiliki nilai perioritas utama untuk di konservasi dan dilindungi.
g. Nilai Budaya
Masyarakat sekitar Bantimurung telah lama memanfaatkan sumberdaya kupu-kupu, baik untuk dijual atau sekedar dijadikan hiasan. Bahkan akhir-akhir ini, masyarakat telah mempu membuat soufinir dari sayap kupu-kupu yang disusun dalam bentuk dekoratif dan bernilai senih yang indah


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kupu-kupu (Rhopalocera) termasuk ke dalam filum Arthropoda, divisio Endopterygota, kelas Insekta dan ordo Lepidoptera. Kupu-kupu dikelompokkan dalam dua superfamili yaitu Hesperioidea dan Papilionoidea. Kupu-kupu dan ngengat (rama-rama) merupakan serangga yang tergolong ke dalam ordo Lepidoptera, atau 'serangga bersayap sisik' (lepis, sisik dan pteron, sayap).
Ciri-ciri ordo Lepidoptera adalah :
      Memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus.
       Mengalami metamorfosis sempurna.
      Tipe mulut pada tahap larva menggigit, sedangkan pada tahap dewasa menghisap.
      Mata fasetnya besar.
 Contoh : Kupu-kupu Swallowtail, kupu-kupu sutera (Bombyx mori), kupu-kupu elang (Acherontia atropos).


DAFTAR PUSTAKA

Amir, M. dan S. Kahono. 2003. Serangga Taman Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Barat. Biodiversity Conservation Project.
Borror, D.J., C.A. Triplehorn dan N.F. Johnson. 1992. Serangga Edisi ke Enam. Gadjah Mada University Press.
Braby, M.F. 2000. Butterflies of Australia Their Identification, Biology and Distribution. Vol 1. Canberra : CSIRO Publishing.
Kunte, K. 2006. Butterflies of Peninsular India. Indian Academy of Sciences. Universities press. India.
Mastright, H.V., Rosariyanto, E. 2005. Buku Panduan Kupu-kupu untuk Wilayah Membrano sampai Pegunungan Cyclops. Conservation International Indonesia. Jakarta.
Untung, K. 1993. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu. Gadjah Mada Universitas Press. Yogyakarta. 273 hal.