Thursday, 11 April 2013

MAKALAH: ORDO DIPTERA (DROSOPHILA) (ENTOMOLOGI)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Serangga merupakan salah satu hewan yang paling sukses di dunia yang menempati berbagai bentuk habitat, yaitu air, tanah, udara, hutan, tetumbuhan, tanah, manusia, hewan, dan berbagai habitat lainya. Serangga hidup dengan memakan bahan keras seperti kayu, menghisap cairan tanaman, menghisap darah manusia dan hewan, atau menyerap berbagai bentuk makanan lainya, baik saling mengungkan keduanya atau sebagai parasit yang merugikan satu sama lain (Goodenough, 1984).
Serangga merupakan golongan hewan yang dominan di muka bumi sekarang ini dan ia dapat sukses beradaptasi dengan lingkungannya. Hal tersebut disebabkan oleh ukuran tubuhnya yang kecil, kemampuan reproduksinya yang cepat (poliembrioni), lapisan tubuhnya yang dilapisi oleh kitin untuk mengurangi penguapan, morfologi dan fisiologinya yang mudah beradaptasi, dapat bermetamorfosis, dan mempunyai kemampuan bertahan diri yang efektif, berupa sengat, bau-bauan, dan kemampuan mobilisasi yang cepat (Boror dkk, 1992).
Dalam kehidupan manusia, serangga berperan penting antara lain di bidang pertanian yaitu sebagai pembantu terjadinya penyerbukan; di bidang ekonomi seperti produksi sutera dari ulat sutera, madu dari lebah, lak sebagai bahan insulin, kupu-kupu dan sebagainya; sebagai makanan, seperti rayap dan belalang; dekompser, pemakan bangkai (entomologi forensik), pemakan kotoran (sakrofag), menambah kesuburan tanah, pengobatan, dan bahan untuk penelitian misalnya. Salah satu spesies yang paling sering digunakan dalam penelitian adalah Drosophila melanogaster. Spesies ini umumnya dikenal sebagai lalat buah dalam pustaka-pustaka biologi eksperimental dan merupakan organisme yang paling banyak digunakan dalam penelitian genetika, fisiologi, dan evolusi sejarah kehidupan.
Serangga berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan maunusia, hewan dalam suatu rantai makanan. Hubungan antara manusia, hewan dan tumbuhan dengan serangga sangat erat. Sehingga, pengetahuan tentang siklus hidup serangga dan peranannya menjadi sangat penting. Dengan demikian, untuk menambah wawasan dan pengetahuan mengenai Drosophila melanogaster, maka disusunlah makalah Entomologi ini untuk membantu proses perkuliahan dan untuk lebih menambah pengetahuan.
1.1  Rumusan Masalah
Permasalahan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu :
1. Bagaimanakah siklus hidup dari Drosophila melanogaster ?
2. Apa peran secara umum dari Drosophila melanogaster ?
1.2  Tujuan
Tujuan dari makalah ini yaitu untuk :
1. Mengetahui siklus hidup dari Drosophila melanogaster.
2. Mengetahui peran secara umum dari Drosophila melanogaster.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA
  
2.1 Klasifikasi
Berikut merupakan klasifikasi dari Drosophila melanogaster (Borror, 1992) :
     Kingdom: Animalia
        Phyllum: Arthropoda
           Kelas: Insecta
              Ordo: Diptera
                 Famili: Drosophilidae
                    Genus: Drosophila
                       Spesies: Drosophila melanogaster
2.2 Ciri Ordo Diptera (Bangsa Lalat)
            Menurut Firmansyah (2012), ordo Diptera mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
  1. Bersayap dua (sepasang) tipis
  2. Termasuk Endopterygota
  3. Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan, pengisap darah, predator dan parasitoid.
  4. Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada dan disebut halter.
  5. Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.
  6. Tipe alat mulut bervariasi, umumnya memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.
  7. Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu: a. Bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum, b. Bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum, c.Bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.
  8. Metamorfosisnya sempurna (holometabola), melalui stadia: telur —> larva —> kepompong —> dewasa.
  9. Larva tidak berkaki
  10. Biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator.
  11. Pupa bertipe coartacta
2.3 Famili dari Ordo Diptera
Menurut Firmansyah (2012), Ordo ini terdiri dari beberapa kelas, diantaranya adalah:
1. Family Culicidae (mosquito/nyamuk)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
a. Larvanya dikenal dengan nama wrigglers atau jentik, hidup di air memakan algae atau plankton, tetapi ada beberapa predator yang memakan larva nyamuk lain.
b. Larva ini memerlukan oksigen dari atmosfer.
c. Fase pupa atau tumblers berada di air (akuatik) dan bernafas dengan menggunakan tabung pernafasan.
d. Serangga dewasa (imago), sebagian besar bersifat crepuskular atau nocturnal.
e. Serangga jantan makan nektar, sedangkan betina makan darah, yang diperlukan untuk petumbuhan telur.
f. Betinanya merupakan bagian dari siklus penyakit, yang berperan sebagai vektor (penyebaran biologis) untuk patogen tertentu, misalnya malaria, yellow fever, encephalistis, filariasis.
g. Nyamuk ini merupakan hama nomor satu di dunia.
2. Family Chironomidae (midges)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
a. Sebagian besar larva mempunyai habitat akuatik dan bersifat saprofag, ada beberapa jenis hidup dan membuat suatu tempat seperti kotak atau tabung pada bagian bawah sedimen, dan ada beberapa dengan hemoglobin (bloodworms).
b. Imago sebagian besar crepuskular atau nocturnal, banyak di sekitar cahaya, tidak makan atau makan nektar, morfologinya seperti nyamuk, tetapi tidak menggigit.
c. Pada famili ini ada yang bersifat cryptobiosis yang dipelajari pada jenis dari Afrika, pada saat larva dikeringkan, laju metabolisme turun hingga nol, dan pada saat larva disimpan dalam gas cair (Helium), kemudian dipanaskan hingga lebih dari 100 ÂșC, dicelupkan dalam etahanol 100% selama 24 jam atau dicelupkan dalam gliserol selama satu minggu, kondisi serangga ini masih dapat membaik dan berkembang dengan sempurna.
3. Family Simuliidae (black flies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
a. Larva dan pupa mempunyai kebiasaan (habit) yang serupa dengan Culicidae, larva akuatik, makan plankton, dan memerlukan oksigen dari atmosfer, dengan menggunakan insang anal, berbeda dengan pada fase larva yang ada di thoraks.
b. Larva beradaptasi pada air yang mengalir dengan cepat (deras), yang didukung dengan struktur caudal seperti piringan (disk) dan tow-line.
c. Fase imagonya juga mirip dengan Culicidae, dimana serangga betina memerlukan darah untuk telur.
d. Banyak spesies dengan agen anasthetik pada sekresi ludah dan seringkali inang tidak memperhatikannya.
e. Sekresi ludah yang mengandung koagulan menyebabkan darah akan keluar terus sampai lalat selesai makan/menghisap.
f.        Beberapa spesies yang hidup di daerah tropis menjadi vektor penyakit filarial yang menyebabkan kebutaan.
4. Family Tabanidae (horse flies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
a. Sebagian besar fase larvanya akuatik, pada air yang tidak dalam, seringkali mereka bersifat predator dan beberapa fitofag.
b. Serangga dewasa seperti nyamuk, betina menghisap darah, sedangkan jantan makan nektar.
c.  Sebagian besar spesies aktif siang hari (diurnal), reaktif terhadap tanda-tanda visual, dan tertarik pada gerakan.
d. Serangga jantannya ini mempunyai mata majemuk yang sangat besar.
e. Serangga ini berperan sebagai vektor penyakit tularemia dan anthraks, filariasis di Afrika.
f.        Dua grup yang umum dari famili ini adalah deer flies (Chrysops spp.) dan horse flies (Tabanus spp.).
5. Family Asilidae (robber flies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
a. Larva hidup pada tanah dan kayu yang membusuk, sebagian besar bersifat predator atau saprofag dan hanya sebagian kecil yang bersifat fitofag.
b. Mereka bersifat predator, dan mengeluarkan enzym proteolitik.
c. Untuk menghindari predator, ada yang mimic (meniru) lebah besar (bumble bees), dan pada beberapa spesies ada yang mukanya berjanggut (sensory organ) untuk menghindari kepala dari mangsa.
6. Family Syrphidae (flowerflies, hoverflies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
      a.       Larva sebagian besar bersifat predator pada aphid atau kutu tanaman.
    b.    Serangga dewasa umum pada bunga, makan nektara, mereka penerbang yang berpengalaman, untuk menghindari serangan predator beberapa meniru (mimic) tabuhan atau lebah.
7. Family Muscidae (lalat rumah, tsetse, dll)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
       a.       Sebagian besar saprofag pada berbagai macam bahan yang membusuk.
       b.      Imago mempunyai habitat dan kebiasaan beragam, banyak yang bersifat saprofag dan beberapa spesies merupakan hama penggigit penting dan penghisap darah, seperti stable fly (lalat kandang) dan tsetse fly.
       c.       Banyak spesies mempunyai strategi reproduksi ovovivipar dan vivipar, larva lalat tsetse berkembang dan makan dari organ seperti plasenta pada oviduct betina, imago meletakkan larva pada tanah dan lubang hingga menjadi pupa.
   d.      Famili Muscidae dikenal sebagai vektor dari patogen penting, seperti penyakit tidur Afrika (trypanosomes), demam typhoid, cholera, dan disentri amoeba.
       e.      Penyebaran penyakit ini dapat terjadi secara mekanik oleh lalat rumah, dan dapat terjadi secara biologis oleh lalat tsetse.
8. Family Calliphoridae (blowflies, bottleflies, screwworm)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
      a.       Sebagian besar larva bersifat saprofag, beberapa parasitoid pada annelida dan molluska, dan sebagian kecil berkembang pada jaringan mamalia (=myiasis).
      b.      Imago mempunyai perilaku yang beragam seperti pada Muscidae, begitu juga dengan strategi reproduksi yaitu ovovivipar atau vivipar.
9. Family Sarcophagidae (flesh flies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
       a.       Larva sebagian besar bersifat saprofag dan sebagian kecil parasitoid.
       b.      Imago mempunyai kebiasaan mirip Muscidae dan Calliphoridae.
10. Family Tachnidae (tachinid flies)
Anggota dari kelas ini memiliki ciri sebagai berikut :
      a.       Kebanyakan larva bersifat endoparasit pada endopterygota lain terutama Lepidoptera dan Coleoptera dan beberapa berguna sebagai musuh alami.
       b.      Imago bersifat fitofag, makan nektar.
       c.       Imago mencari inang dan tempat yang sesuai untuk peletakkan telur.
     d.      Beberapa spesies mempunyai strategi peletakkan telur dan larva yang aneh, mereka mempunyai telur mikro yang diletakkan pada dedaunan, telur tersebut akan menetas jika mereka tertelan oleh inang, kemudian larva melanjutkan makan organ-organ bagian dalam inangnya.
2.4 Struktur Morfologi dan Anatomi
Drosophila dan Arthrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, yaitu suatu seri segmen yang teratur. Segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen seperti hewan simetris bilateral lainnya. Drosophila memiliki poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur member informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. Setelah fertilisasi, informasi dengan benar akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen (Ashburner, 1989).
Pada umumnya Drosophila melanogaster memiliki warna tubuh kuning kecokelatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang. Ukuran tubuh Drosophila melanogaster berkisar antara 3-5 mm. Sayap Drosophila melanogaster cukup panjang dan transparan. Posisi sayapnya bermula dari thorax. Urat tepi sayap (costal vein)nya memiliki dua bagian yang terinterupsi dekat dengan tubuhnya. Sungut (arista)nya pada umumnya berbentuk bulu dan memiliki 7-12 percabangan. Crossvein posterior umumnya berbentuk lurus, tidak melengkung. Drosophila melanogaster memiliki mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwarna merah. Hewan ini juga memiliki mata oceli pada bagian atas kepalanya dengan ukuran relatif lebih kecil dibanding mata majemuk. Thoraxnya berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedankan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam (Shorrocks, 1972). 
Selain pengklasifikasian menurut Borror (1992), Wheeler (1981) telah mengklasifikasikan Drosophila melanogaster ke dalam sub ordo Cyclophorpha, yaitu pengelompokkan lalat yang pupanya terdapat kulit instar 3 dan memiliki jaw hooks. Selain itu, Drosophila melanogaster termasuk ke dalam seri Acaliptrata, yaitu imago yang menetas dari bagian anterior pupa.
Secara morfologi Drosophila jantan dan betina memiliki ciri yang berbeda. Ukuran tubuh jantan lebih kecil dari betina. Pada Drosophila jantan, sayapnya pun lebih pendek dibandingkan sayap betina. Drosophila jantan memiliki sisir kelamin (sex comb) yang tidak dimiliki oleh betina. Hal yang paling memudahkan membedakan Drosophila jantan dan betina adalah, ujung abdomen jantan lebih tumpul, sementara ujung abdomen betina runcing dan tidak berwarna hitam (Nio, 1990). 
2.5 Siklus Hidup Drosophila melanogaster
Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis holometabola, yaitu metamorfosis sempurna. Tahapan metamorfosisnya dari telur - larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago.
Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat ferlisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur. Hal tetsebut terjadi dalam waktu sekitar 24 jam. Pada saat seperti itu, larva tidak dapat berhenti untuk makan (Silvia 2003).
Menurut Silvia (2003), periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur. Periode ini disebut dengan perkembangan postembrionik. Postembrionik dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa. Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan dapat mencapai 400-500 buah dalam 10 hari.
Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (korion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai tipis. Korion memiliki kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror 1992). Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernapasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia 2003).
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodic berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integument baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Sehingga pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada proses pergantian kulit ‘molting’ yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar I ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago. Lama fase telur sekitar 19 jam, larva instar I sekitar 1 hari, larva instar 2 sekitar 1 hari, larva instar III sekitar 1 hari, prepupa sekitar 2 hari, dan pupa selama 3 hari. (Ashburner 1985).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium. Jika terdapat banyak saluran makan pertumbuhbiakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Di tempat tersebut larva akan melekatkan diri dengan cairan lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa. Menurut Ashburner (1985), saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tidak berkepala dan bersayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini juga larva berganti menjadi lalat dewasa.
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003). Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih puat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan. Pada ujung anterior Drosophila terapat mikofili, yaitu tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrofili, namun hanya satu sperma yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina, sementara yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio (Borror 1992).
2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan pada Siklus Hidup Drosophila melanogaster
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidup Drosophila melanogaster diantaranya yaitu suhu lingkungan, ketersediaan makanan, tingkat kepadatan botol pemeliharaan, dan intensitas cahaya (Ruslan, 2007).
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal. Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28oC. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 18oC, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30oC, lalat dewasa yang tumbuh akan steril (Ruslan, 2007).
Ketersediaan makanan juga akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan Drosophila. Jika kekurangan makanan, jumlah telur yag dikeluarkan Drosophila betina akan menurun. Drosophila yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun seringkali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa yang dapat menjadi dewasa dapat menghasilkan hnaya sedikit telur. Viabilitas dari telur-telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks 1972).
Tingkat kepadatan di botol mempengaruhi pertumbuhan Drosophila. Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakkan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak. Dalam kondisi ideal, yaitu tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat), Drosophila melanogaster dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian padfa individu dewasa. Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap (Shorrocks 1972).
2.6 Peranan Secara Umum
Ordo dipetra yang terdiri atas lebih dari 80 ribu spesies serangga yang berasal dari sekitar 140 famili. Ordo ini merupakan golongan serangga yang paling banyak menjadi penular penyakit. Sesuai dengan namannya, artropoda ini hanya mempunyai dua sayap, karena pasangan sayap posterior telah berubah bentuk dan fungsi menjadi alat keseimbangan (halter). Ordo diptera mempunyai mata majemuk dan umumnya memilki tiga buah ocelli. Pada golongan Diptera berderajat tinggi, larva sering mampu menembus jaringan dan organ tubuh manusia atau hewan hidup sehingga menimbulkan miasis (myiasis) (Anonymous, 2012).
Drosophila melanogaster banyak dijadikan objek untuk kajian-kajian genetik. Lalat buah mudah dipelihara dalam laboratorium karena makanannya sangat sederhana, yang membutuhkan sedikit ruangan dan tubuhnya pun cukup kuat. Pada temperatur kamar, lalat buah dapat menyelesaikan siklus hidupnya kurang lebih dalam 12 hari. Selain di alam jumlahnya sangat berlimpah dan mudah didapati, lalat buah dapat menghasilkan keturunan dalam jumlah yang besar setiap siklus reproduksi. Menurut Hartwell et al. (2004), genom Drosophila memiliki kemiripan 77% dengan genom pada manusia, hal ini menyebabkan Drosophila melanogaster sebagai model yang ideal untuk dipelajari. Jumlah kromosomnya relatif sedikit, yaitu 4 pasang dan memiliki “Giant Chromosome”. Kromosom ini terdapat di dalam sel-sel kelenjar ludah yang besarnya 100 kali lipat dari kromosom biasa, sehingga mudah diamati di bawah mikroskop cahaya. Lalat buah memiliki berbagai macam perbedaan sifat keturunan yang dapat dikenali dengan pembesaran lemah. Lalat buah ini memiliki beberapa jenis mutan (individu yang dihasilkan karena adanya mutasi) yang dapat diamati dengan perbesaran lemah pula. Selain itu, perkembangan dari siklus hidupnya mudah diamati karena terjadi di luar tubuhnya mulai telur, larva, pupa hingga menjadi dewasa (imago).


BAB III
PENUTUP
  
3.1 Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah:
     1.      Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis holometabola (metamorfosis sempurna). Tahapan metamorfosisnya dari telur - larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. 
      2.      Ordo diptera merupakan golongan serangga yang paling banyak menjadi penular penyakit, namun Drosophila melanogaster banyak dijadikan objek untuk kajian-kajian genetik.


DAFTAR PUSTAKA


Ashburner, Michael. 1989. Drosophila, A Laboratory Handbook. USA : Coldspring Harbor Laboratory Press
Borror J.D. Triplehorn. 1992. Pengenalan Pengajaran Serangga. Yogyakarta : UGM Press
Firmansyah, 2012. http://Anything/DIPTERA/ordo-diptera.html Diakses Tanggal 29 April 2012
Goodenough. 1984. Genetika Edisi ketiga Jilid Satu. Jakarta : Erlangga
Hartwell L.H., L. Hood, Reynolds Goldberg, Veres Silver. 2004. Genetics From Genes to Genoms 2nd Ed. New Delhi : McGraw-Hill Publishing Company LTD.
http//:Anything/DIPTERA/lalat-buah-drosophila-melanogaster.html Diakses Tanggal 29 april 2012
Jumar, 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta : Rhineka Cipta
Nio.T.K. 1990. Genetika Dasar. Bandung : ITB Press
Ruslan, H. 2007. Entomologi. Jakarta : Fakultas Biologi Universitas Nasional
Shorrocks B. 1972. Drosophila. London : Ginn & Company Limited.
Silvia Triana. 2003. Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi Formaldehida Terhadap Perkembangan Larva Drosophila. Bandung: Jurusan Biologi Universitas Padjadjaran



0 comments:

Post a Comment